Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, tanggal 8 Juli 2017 atau 15 Syawal 1438 H kemarin, Alloh SWT mempertemukan 36 Jamaah / Jannatul Maiyah di halaman Masjid Kampus Universitas Peradaban, yang terdiri dari anggota UKM LSMM dan mahasiswa kampus Universitas Peradaban, teman-teman Lingkar Maiyah Bumiayu Galuh Kinasih, teman-teman dari Goeboeg Syafaat Kalijurang, teman-teman Poci Maiyah Tegal, juga teman-teman dari Purwokerto. Acara dimulai sekitar Ba’da Isya, diawali dengan sholawatan dan kemudian sambutan dari tuan rumah Mas Jinan selaku ketua UKM LSMM. Afgan yang juga penggiat LMBGK pun menjelaskan secara singkat tentang acara ini merupakan lingkar diskusi / tadabur Daur Cak Nun yang bisa diikuti oleh semua penikmat kajian Cak Nun, serta penamaan “LIMALASAN” untuk kegiatan tadabur daur selanjutnya. “LIMALASAN” mengacu pada kegiatan yang kita laksanakan setiap tanggal limabelas di tahun hijriah, juga dari salah satu ciri khas Bumiayu yaitu Jembatan Sakalimalas.

Sebelum memulai acara inti, Dimas Indiana Senja membacakan Puisi dari Cak Nun yang berjudul “ CAHAYA MAHA CAHAYA “

Usiaku enam hari
Enam hari yang menakjubkan:
Tuhan bermain ruang waktu di tangannya, bisa kau bayangkan?
Hari pertama cahaya maha cahaya
Cahaya maha cahaya tak bisa dikisahkan
Bisa, mungkin.
Tapi kita ini dungu Ilmu kita tingkat serdadu
Hari kedua kegelapan tiada tara
Beberapa kata mulai bisa mengucap, karena rahasia mulai berlaku didepanmu sebagai rahasia
Hari ketiga kau adalah kau, aku masih aku
Baru kelak Tuhan, semua kita nangis cengeng
Kita melempari galaksi supaya bintang runtuh, kita mengais-ngais bumi mencari emas permata untuk kita kunyah-kunyah demi mengisi hari dengan ketololan
Di hari keempat engkau adalah dunia ini
Kalau kau gembira bukanlah kau yang bergembira sebab sesungguhnya tak kau perlukan kegembiraan
Kalau kau bersedih kehidupanlah yang bersedih sebab kesedihan tak sanggup menyentuh jiwamu
Kau tak membutuhkan suka duka, harta atau kepapaan, kau tak terikat oleh penjara atau kemerdekaan, kau lebih perkasa dari ketakutan atau keberanian, kau lebih tinggi dari derajat kehinaan, kau lebih besar dari kehidupan atau maut
Di manakah engkau bersemayam kiranya?
Hari keempat telah senja dan fajar hari kelima mulai menyiapkan pemenuhan janjinya
Hari kelima gelap gulita
Hari di mana engkau sirna, di mana engkau tak engkau hari yang menjelmakan kembali menjadi cahaya menyatu ke hari keenam cahaya maha cahaya

Daur II -017 : TERTAWA ITU SUNGGUH-SUNGGUH.

Tanggapan dari Dharmawan R Afgani, bahwa “ Ternyata tertawa pun ada yang sungguh-sungguh dan ada yang pura-pura. Tertawa merupakan bentuk kemesraan dengan Gusti Alloh, sehingga muncul istilah ‘Rah(m)atan lil alamin’. Rahatan yang mengharap rahmat dari Gusti Alloh.”

“Saya tertawa ini sungguh-sungguh”, Tarmihim membela diri, “Tertawa itu suci, ia keluar apa adanya dari perasaan melalui mulut. Tertawa itu bukan bermain-main. Tidak semua tertawa itu bergurau. Tertawa itu murni sebagai akibat dari suatu sebab. Hubungan antara sebab dengan akibat yang berbentuk tertawa itu serius dan nyata. Bukan permainan. Bukan cengengesan. Bukan senda gurau” – Daur II-017

Tanggapan dari Dimas yang juga seniman dan dosen IAIN Purwokerto , “ Tertawa adalah self healing, usaha penyembuhan diri. Ada kutipan dari Charlie Chaplin bahwa sebuah hari tanpa tawa adalah hari yang tidak berguna. Daur II-017 ini bisa jadi merupakan tulisan satire yang membuat kita berpikir bahwa bila kita terlalu sibuk menertawakan sesuatu, jangan-jangan ternyata seharusnya menertawakan diri sendiri. Menertawakan kebodohan yang diri sendiri. Menertawakan kebenaran yang kita agung-agungkan yang ternyata belum tentu sejati. Sedangkan kebenaran itu hal yang perspektif.”
Mengenai bab tertawa, Dimas juga membacakan sekilas puisi dari Gus Mus berjudul Negara Haha Hihi.

Bukan karena banyaknya grup lawak maka negeriku selalu kocak.
Justru grup-grup lawak hanya mengganggu dan banyak yang bikin muak.
Negeriku lucu dan para pemimpinnya suka mengocok perut:
Banyak yang terus pamer kebodohan dengan keangkuhan yang menggelikan.
Banyak yang terus pamer keberanian dengan kebodohan yang mengharukan.
Banyak yang terus pamer kekerdilan dengan teriakan yang memilukan.
Banyak yang terus pamer kepengecutan dengan lagak yang memuakkan. Ha ha…
Pejuang keadilan jalannya miring.. Penuntut keadilan kepalanya pusing
Hakim main mata dengan maling.. Wakil rakyat baunya pesing. Hi hi …
Kalian jual janji-janji ..
untuk menebus kepentingan sendiri
Kalian hafal pepatah-petitih..
untuk mengelabui mereka yang tertindih.
Pepatah-petitih, ha ha…
Anjing menggonggong kalian terus berlalu …
Sambil menggonggong kalian terus berlalu
Ha ha, hi hi……
Ada udang di balik batu …
Otaknya udang kepalanya batu
Ha ha, hi hi……
Sekali dayung dua pulau terlampaui
Sekalu untung dua pulau terbeli
Ha ha, hi hi……
Gajah mati meninggalkan gading
Harimau mati meninggalkan belang
Kalian mati meninggalkan hutang
Ha ha, hi hi……
Hujan emas di negeri orang hujan batu di negeri sendiri
Lebih baik yuk hujan-hujanan caci-maki
Ha ha, hi hi……

Terkait dengan kebenaran, Indri mahasiswi UIN Yogyakarta melemparkan pertanyaan “ Kebenaran menurut Cak Nun terbagi tiga : Benere dewek, benere wong akeh, lan benere ingkang sejati. Lalu bagaimanakah mencari kebenaran di era media sosial sekarang ini?”

Baqi dr Universitas Peradaban menjelaskan teori kebenaran menurut Endang Saifuddin Anshari ( dalam buku Ilmu, Filsafat dan Agama, 1979 dibagi menjadi tiga. Pertama, teori korespondensi yaitu kebenaran atau sesuatu keadaan benar itu terbukti benar bila ada kesesuaian pernyataan dengan fakta, yang berselaras dengan realitas, yang serasi dengan situasi. Kedua, teori koherensi yaitu menganggap suatu pernyataan benar bila didalamnya tidak ada pertentangan, bersifat koheren dan konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang telah dianggap benar. Ketiga, teori pragmatisme menganggap suatu pernyataan, teori atau dalil itu memiliki kebenaran bila memiliki kegunaan dan manfaat bagi kehidupan manusia, oleh karena itu tidak ada kebenaran yang mutlak/tetap, kebenarannya tergantung pada kerja, manfaat dan akibatnya.

Afgan berpendapat bahwa kebenaran itu tidak untuk dipertanyakan. Kebenaran adalah perjalanan terus-menerus yang harus dicari dan jangan berhenti pada satu titik. Pada kebenaran berlaku relativisme, seperti kebenaran bisa berlaku dan hari ini dan besok tidak.

Ada jamaah maiyah yang juga jamaat tarikat al jancukiyah yang menanggapi bahwa menurut Sastra Jendra, kebenaran dari Gusti Alloh itu seperti air yang mutlak. Sedangkan kebenaran-kebenaran dari manusia tidak ada apa-apanya.

Mas Erwin dari Benda menambahkan, bahwa kebenaran merupakan ilmu yang kemudian menghadirkan kebaikan. Dia juga mengungkapkan bahwa dengan ikut bergabung bersama jamaah maiyah lain semoga kita bisa bermaiyah di segala aspek kehidupan, semoga kita tidak bisa kemana-mana lagi karena dimana-mana bertemu “maiyah”.

Pertanyaan oleh Jinan LMB GK, bagaimana menanggapi agama yang sekarang sering dijadikan alat kepentingan dan juga sebagai penghakim?

Pujie, perempuan terakhir yang mengikuti kegiatan sampai selesai ikut menanggapi.
“Meskipun Tuhan berfirman bahwa “tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan senda gurau”, tetapi hidup saya sangat sungguh-sungguh. [2] (Al-An’am: 32). Entah siapa yang main-main dan senda gurau. Tapi saya tidak. Saya hanya tertawa karena bersyukur”. – Daur ii-017
Sepakat dengan Dimas, bahwa ini satire dan paradox. Bahwa dunia ini penuh permainan, penuh bahan tertawa, tapi juga membuat kita harus waspada. Gusti Alloh memberikan kita akal, memberikan kita hati, memberikan kita kebebasan untuk tertawa dan bercanda dengan teman untuk alasan sosialisasi tapi jangan sampai menyakiti, jangan sampai terjadi perpecahan, jangan sampai bermusuhan.’ Tertawa yang sunguh-sungguh’ mungkin sebaiknya membuat kita semakin mengerti bahwa kita boleh “menertawakan” Gusti, “menertawakan keparadoksan Gusti, dan itu mungkin bisa dijadikan alasan kita untuk bermesraan dengan Gusti Alloh, bercanda dengan Gusti Alloh yang juga mengisyaratkan kedekatan dengan Dia. Tapi ya memang, harus sadar diri, sebatas apa kita ‘boleh’ bercanda dan menalar Alloh SWT. Dan sebagai perempuan yang banyak sekali kekurangan, Pujie berpendapat bahwa tidak boleh ada yg menghalangi orang seperti dia dalam menjalani proses pencarian dari pembenaran menuju kebenaran. Bila diibaratkan air adalah Tuhan, maka dia dan mungkin yang lain yang merasa kotor harus berani mendekat kepada Si Air yaitu Gusti Alloh yang Maha Membersihkan. Dan teman-teman lain semoga bisa membantu bukan hanya meng-judge. Seperti kata Cak Nun, “ Kalau menurutmu aku ini orang tersesat, kenapa tak kau peluk dan sayangi aku, kemudian kau tunjukkan kebenaran itu. Kenapa kau malah membenciku, mengutuk, menghardik, bahkan memutuskan persaudaraan denganku “.

Acara ini selesai pukul 23.30. Semoga Gusti Alloh menerima kegiatan tadabur kita ini. Semoga bersama dengan angin yang terus-terusan berhembus kencang selama kegiatan dan juga padhang wulan, dihembuskan dan disinarinya pula kasih sayang dan rahmat dari Alloh SWT kepada kita semua.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

notulis : Pujie

Facebook Comments
Daur II -017 : TERTAWA ITU SUNGGUH-SUNGGUH. “LIMALASAN”

Leave a Reply

xxx